KOMPAS.com - Korea Selatan tengah menghadapi aksi mogok kerja para pekerja kantin. Padahal, selama ini menu-menu makan siang di sekolah Korea kerap mendapat pujian dari warganet global di media sosial.
Dalam konten-konten di media sosial seperti TikTok dan YouTube, menu makan siang di sekolah Korea tampak sangat lezat dan menggiurkan.
Unggahan menu seperti udang goreng dengan saus tartar, nasi goreng telur, sup mi sapi, salad mangga-stroberi, acar lobak, kimchi, hingga es krim cokelat menarik jutaan penonton.
Dikutip dari The Korea Times, Senin (22/9/2025), negara tersebut memiliki menu makan siang di sekolah sehat, porsi besar, dan didanai pemerintah.
Namun di balik pujian global atas makan siang gratis Korea, terdapat sisi kelam yang jarang terekspos yakni penderitaan pekerja kantin penyedia makanan tersebut stiap harinya.
Lantas, bagaimana kondisi para pekerja kantin di Korea Selatan di balik tampilan lezat menu makan siang di konten media sosial?
Kondisi nyata pekerja kantin di balik konten makanan lezat
Laporan media setempat menyebutkan, beban kerja mereka dua hingga tiga kali lebih berat dibandingkan dapur perusahaan biasa.
Akibat budaya kerja seperti ini, banyak dari mereka menderita kelainan otot, arthritis, hingga cacat tangan akibat kerja berulang.
Sebagian besar pekerja kantin berstatus kontrak tanpa perlindungan memadai. Mereka kerap dipandang sebelah mata sebagai "ahjumma" yang dianggap hanya menambah penghasilan keluarga, sehingga hak kerja mereka kerap diabaikan.
