Fenomena ini disebut emotional spending atau belanja karena dasar emosi, misal karena stress, marah, atau sedih. Ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan pola psikologis yang membuat kita terjebak dalam lingkaran tanpa kendali.

Baca Juga: Menguak Hubungan Psikologi dengan Belanja Impulsif yang Sulit Dikontrol dan Solusi Bijak Mengatasinya

Sayangnya, semakin sering dilakukan, efeknya makin cepat hilang. Akhirnya membeli sekali saja tidak cukup, dan kita terus memburu perasaan lega sementara itu. Emotional spending pun menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.

Selain dopamin, belanja juga memberi ilusi kontrol. Saat hidup terasa kacau, membeli sesuatu bisa membuat kita merasa berkuasa untuk sesaat. Namun ironisnya, stres justru melemahkan kendali diri sehingga dorongan untuk berbelanja makin kuat.

Intinya meskipun terasa seperti solusi cepat, emotional spending membawa konsekuensi serius misalnya menjadi beban secara finansial, perasaan menyesal kemudian, hingga emosi yang akhirnya menumpuk karena hanya ditutupi dengan kebahagiaan sesaat.

Baca Juga: Dampak Belanja Impulsif Lewat Dompet Digital dan Media Sosial, Ini 3 Cara Mengendalikannya

Kabar baiknya, pola ini masih bisa diputus. Berikut langkah-langkah yang bisa dicoba seperti dilansir dari kanal Youtube Psyh2go.

 

1. Buat Jeda Sebelum Ingin Belanja

 

 

 

 

 

Belanja memberi rasa senang, tapi itu bisa digantikan dengan aktivitas lain. Misalnya, olahraga ringan, jalan kaki, atau yoga, menggambar, menulis, atau memasak, ngobrol dengan teman atau keluarga atau sekadar keluar rumah untuk menghirup udara segar.

3. Atur Keuanganmu dengan Bijak

Buat budget khusus untuk keinginan belanjamu. Misalnya, alokasikan dana kecil tiap bulan hanya untuk belanja bebas rasa bersalah. Atau gunakan sistem wishlist, tunggu seminggu sebelum membeli, dan lihat apakah barang itu masih terasa penting atau sekadar fomo saja.

4. Kenali Pemicu Emosionalmu

Apakah kamu cenderung belanja saat stres, bosan, atau kesepian? Dengan menyadari pemicu, kamu bisa mencari cara lain yang lebih sehat untuk mengatasinya, misalnya meditasi, journaling, atau sekadar istirahat.

Sebagai penutup, emotional spending bukan tentang terbawa nafsu belanja semata, melainkan tentang bagaimana otak kita merespons stres dan emosi. Belanja memang bisa memberi rasa senang sementara, tapi jika dilakukan untuk menutupi masalah emosional, akibatnya bisa merugikan, baik secara mental maupun finansial.

Ingat, tidak ada yang sempurna. Kita semua punya cara masing-masing untuk menghadapi stres. Yang terpenting bukanlah mengubah segalanya sekaligus, melainkan memulai dari satu pilihan kecil yang lebih sadar setiap harinya.